Kamis, Mei 28, 2009
Rabu, Mei 27, 2009
Selasa, Mei 26, 2009
Senin, Mei 25, 2009
Elek Tro, biuskupe
saya terkesan dengan guru ilmu alam waktu SMP dulu, namanya pak sis. Sis siapa ya saya nggak ingat persisnya... apa pak siswanto apa pak siswandi ya..... mungkin ada temen yang ingat tolong saya dikoreksi.... oh, ya saya inget sekarang pak siswadi. beliau mengajar dengan cara yang gamblang dan jelas, tanda bahwa beliau menguasai betul ilmu alam. kalau menerangkan lensa cembung, lensa cekung dan bayangan yang terjadi, bayangan maya atau nyata, terbalik atau tidak, lebih besar apa lebih kecil, bisa jelas sekali dan mudah diterima murid. suatu ketika waktu menerangkan lensa dan bayangan ini menyelingi dengan guyonan (joke) maksudnya supaya murid-murid tidak ngantuk. Guyonannya tentang jaman dahulu waktu indonesia masih dijajah belanda sekitar tahun 1930-an gitu. sastro orang boyolali yang punya temen sekampung namanya karyo. karyo sekolah di solo tapi sastro tetap tinggal di kampung. karena sekolah di solo karyo punya pengalaman yang lebih banyak daripada sastro. suatu ketika waktu karyo pulang kampung dia umuk (nyombong) ke sastro kalau ke solo akan diajak nonton bioskop. waktu itu bioskop-bioskop di solo baru saja menggunakan proyektor listrik (electro bioscoope) yang sebelumnya pakai proyektor diputar tangan (manual). Gedung-gedung bioskop yang sudah pakai proyektor listrik diberi tulisan besar-besar "ELECTRO BIOSCOOPE". karena kepengin nonton bioskop sastro bener pergi ke solo nagih janji ke karyo. ternyata karyo di solo lagi nggak punya duit padahal sudah kadung janji mau ngajak nonton sastro. gimana caranya ngelak? karyo punya akal. diajaknya sastro jalan ke bioskop tapi dengan syarat kalau filmnya jelek nggak jadi nonton. sastro manggut-manggut saja, kan mau ditraktir. sampai di gedung bioskop karyo bilang : "tro, iki pileme elek, besok maneh wae liya dina nontone yen pileme apik" sastro jawab : 'lha, kowe ngerti saka ngendi yen pileme elek" jawab karyo : "lha, kuwi kowe wis dikandani sing duwe bioskop, delengen tulisan gede ana nduwur kuwi, tulisan kuwi unine elektro biuskupe (electro bioscoope), dadi yen nonton rak malah rugi" Karena sastro nggak bisa basa inggris, ya percaya saja sama karyo dan mau diajak pulang. Jadi itulah cerita lucunya sebagai selingan pelajaran lensa dan cahaya yang diberikan oleh Pak Sis. saya jadi inget cerita kancil dan macan dalam Buku Gelis Pinter Maca. waktu kancil ketemu macan ditanya lagi apa, kancil menjawab lagi nunggu sabuke kanjeng nabi sulaiman, padahal itu ular lagi tidur. terus macan pengin nyoba. kancil bilang kalau mau nyoba boleh saja tetapi saya lari dulu takut dimarahi sama kanjeng nabi sulaiman............. selanjutnya pasti teman-teman sudah pada tahu akhirnya........... best regards, Wirawan.
Rabu, Mei 20, 2009
Diwulang Kok Maido
Maido itu kan Basa Jawa artinya tidak percaya, menyangkal atau membantah. Kalau orang Jawa maido biasanya bilang : Ah, pret..... atau Ah, gombal....... Kalau orang Jawa Timur maido bilang : Ngawur ae.....kon... Jadi judul diatas itu artinya diajari kok nggak percaya. Kejadiannya waktu saya di kelas 3 SMP I, siang-siang habis istirahat ke-2 pelajaran ilmu bumi (kalau tidak salah ingat). Pak guru sedang menerangkan di depan kelas tahu-tahu ada bunyi pret... di belakang. Rupanya ada temen kepentut (kentut tapi tidak sengaja) mungkin karena perutnya sedang kembung atau mules. Kelas jadi tegang nggak ada yang berani ngomong sama sekali suasana kelas sunyi senyap. Teman yang merasa bersalah karena ngeluarin gas tadi juga merasa takut dan malu. Tiba-tiba Pak Guru komentar : "Diwulang kok maido" langsung anak-anak tertawa gerrr........................... Ternyata Pak Guru tidak marah. Setelah ada yang komentar kiri-kanan sebentar, suasana tenag kembali dan Pak Guru meneruskan pelajarannya. Saya lihat teman yang kepentut tadi sudah lega tidak dimarahi sama Pak Guru. Maklum jaman itu kita semua takut sama Pak Guru. Jaman dulu kalau ketemu Pak Guru pasti nunduk dan beri hormat. Waktu SD malah murid pasti membawakan sepeda Pak Guru sampai ke kandang sepeda dan murid yang lain membawakan tasnya. Kalau mau masuk kelas baris dulu dua-dua, baru kemudian disuruh masuk barisan yang paling rapi. Saya dengar di Jepang tradisi ini masih dijalankan sampai sekarang untuk menanamkan disiplin. Malah disana setiap murid harus mencium tangan gurunya dulu baru masuk kelas. Tapi kalau hal ini saya ceritakan kepada anak saya supaya ditiru, komentarnya : Ah, itu mah jadul pak........... (jadul=jaman dulu) sekarang nggak ada lagi................. Kembali ke cerita diatas, saya sudah lupa siapa ya temen yang kepentut di kelas itu. Kalau gurunya seingat saya Pak Mursidi guru Ilmu Bumi, beliau rumahnya di Sambeng. Beliau ternyata tidak marah malah mengeluarkan komentar yang lucu sehingga anak-anak tertawa. Siapa lagi teman yang punya kisah lucu...............please share ke blog kita ini..........best regards, Wirawan.
Kamis, Mei 14, 2009
SUSUNAN PENGURUS PANAMMA SMPN I SOLO
Penasehat : UMAR ANGGARA JENIE
JANGGAN MULADI
Ketua : WIRAWAN SAHLI
Sekretaris : RINI GUNAWAN
Bendahara : MARYUNANI
TITEK MARSETYOWATI
Seksi Sosial : ANTO SUKARDJO
ANDREAS PINITOYO
Seksi Dokumentasi : SULISTYO ATMADI
Seksi Umum : RASWATI
PERWAKILAN CABANG :
Solo : SITI NURYATI
Jogyakarta : MARCHABAN
Surabaya : BAMBANG DARYANTO
BOEDYO POERNOMO
Malang : SUKO ADI WAHYUNI
Bandung : SULISTYO ATMADI
Pemain Ketipung Dadakan
Saya pernah jadi pemain ketipung dadakan. Ceritanya waktu itu pramuka SMP I mengikuti camping di Panasan dalam rangka HUT Pramuka. Tahun 1962 atau 1963 saya lupa persisnya. Kita naik truk AURI dari halaman sekolah sampai di lapangan bola Panasan. Disitu sudah banyak didirikan tenda-tenda untuk menampung anak-anak pramuka yang ikut acara. Sorenya diadakan malam kesenian di gedung pertemuan dekat situ. Yang mengisi acara juga anak-anak pramuka, ada tari-tarian, deklamasi, standen dan lain-lain. Pramuka SMP I menampilkan band-bocah. Yang saya inget pemainnya antara lain Banendro pegang gitar, Widodo main bas, yang lainnya lagi saya lupa tapi penyanyinya saya ingat bener yaitu Djoko Marsono. Djoko dan saya boleh dibilang teman akrab, kalau sekolah saya sering ngampiri dia. Saya suka telpon-telponan kalau dirumah. Dia sering dolan ke rumah saya dan saya juga sering dolan ke rumahnya. Ibunya Djoko suka masak, saya seneng kalau main ke rumahnya disuguhi kue enak-enak. Waktu di Panasan itu kita sudah masuk ke gedung pertemuan, tiba-tiba Djoko mencari saya. Katanya : 'Wan, kamu bisa main ketipung nggak?" Saya jawab : "Bisa saja" Dia bilang : "Ini pemain ketipungnya nggak datang, harus ada gantinya" Sebetulnya saya hanya asal jawab saja kalau saya bisa main ketipung, soalnya di kampung saya ada kelompok gambusan yang dimainkan pemuda-pemuda tetapi saya belum ikut main. Saya hanya ikut nonton tapi kadang-kadang kalau mereka lagi istirahat saya coba-coba mukul-mukul ketipung. Saya tiru-tiru mereka saja gimana cara mukulnya.
Karena itu waktu ditanya sama Djoko saya jawab bisa saja. Terus Djoko bilang sama temen-temennya pemain band kalau Wirawan bisa pegang ketipung. Terus saya disuruh ke belakang panggung disuruh coba mainkan ketipung di depan anak-anak band itu. Saya mainkan saja yang saya bisa plak...ketiplak...ketipung...ketipung... gitu saja saya pukul berulang-ulang. anehnya mereka menganggap saya bisa main. Terus salah satu ada yang memberi contoh cara mukulnya....tak...dung..dung..tak.... Saya coba ikuti irama itu tapi kok saya kurang cocok, mungkin karena saya biasa memukul ala gambusan.
Giliran layar dibuka band main saya pukul saja sebisa saya nggak usah ngikuti arahan teman tadi, pokoknya cocok di telinga saja. Lagunya Burung Kakatua dinyanyikan sama Djoko sambil pantatnya megal-megol, penonton tepuk tangan rame sekali karena Djoko nyanyinya gak malu-malu, lepas saja sambil bergaya. Jadi penonton nggak denger ini ketipungnya cocok apa nggak karena sudah senang sama nyanyinya Djoko. Tapi saya denger ada temen-temen yang duduk di depan teriak-teriak heran : "Lho, itu kok Wirawan ikut main band" Memang saya selama itu tidak pernah ikut latihan band. Yang lain pada latihan sebelumnya, lha saya nggak pernah ikut latihan, tapi kok tahu-tahu muncul di panggung. Saya juga heran waktu itu kok saya mau saja ikut main. Lha, namanya juga pemain ketipung dadakan. Saya sudah lupa waktu itu siapa sebenarnya yang harusnya main ketipung tetapi tidak datang dan mengapa tidak datang, mungkin sakit ya...... Nuwun, Wirawan.
Karena itu waktu ditanya sama Djoko saya jawab bisa saja. Terus Djoko bilang sama temen-temennya pemain band kalau Wirawan bisa pegang ketipung. Terus saya disuruh ke belakang panggung disuruh coba mainkan ketipung di depan anak-anak band itu. Saya mainkan saja yang saya bisa plak...ketiplak...ketipung...ketipung... gitu saja saya pukul berulang-ulang. anehnya mereka menganggap saya bisa main. Terus salah satu ada yang memberi contoh cara mukulnya....tak...dung..dung..tak.... Saya coba ikuti irama itu tapi kok saya kurang cocok, mungkin karena saya biasa memukul ala gambusan.
Giliran layar dibuka band main saya pukul saja sebisa saya nggak usah ngikuti arahan teman tadi, pokoknya cocok di telinga saja. Lagunya Burung Kakatua dinyanyikan sama Djoko sambil pantatnya megal-megol, penonton tepuk tangan rame sekali karena Djoko nyanyinya gak malu-malu, lepas saja sambil bergaya. Jadi penonton nggak denger ini ketipungnya cocok apa nggak karena sudah senang sama nyanyinya Djoko. Tapi saya denger ada temen-temen yang duduk di depan teriak-teriak heran : "Lho, itu kok Wirawan ikut main band" Memang saya selama itu tidak pernah ikut latihan band. Yang lain pada latihan sebelumnya, lha saya nggak pernah ikut latihan, tapi kok tahu-tahu muncul di panggung. Saya juga heran waktu itu kok saya mau saja ikut main. Lha, namanya juga pemain ketipung dadakan. Saya sudah lupa waktu itu siapa sebenarnya yang harusnya main ketipung tetapi tidak datang dan mengapa tidak datang, mungkin sakit ya...... Nuwun, Wirawan.
Langganan:
Komentar (Atom)
